Senin, 02 Mei 2016

Pengertian dan Ruang Lingkup Fisioterapi


2.1     Sejarah Fisioterapi
Praktek fisioterapi atau terapi fisik sudah dimulai sejak abad 2500 SM di China berupa akupuntur dan berbagai teknik manual therapy. Penggunaan fisioterapi juga sudah tercatat dalam "Ayurveda" yang merupakan suatu sistem kedokteran paling tua dan sampai sekarang masih dipraktekkan dan diakui oleh India sebagai bagian dari sistem kesehatan negara. Pada kedokteran barat, tercatat pada tahun 460 SM, Hippocrates sudah menggambarkan massage dan hydrotherapy sebagai alternatif penyembuhan berbagai penyakit. Pada era modern, fisioterapi mulai banyak dikembangkan pada tahun 1896 di London yang pada mulanya bertujuan untuk meningkatkan mobilitas penderita yang dirawat inap di rumah sakit untuk menjaga kekuatan dan fungsi otot. Ilmu fisioterapi kemudian berkembang pesat dan mulai dilakukan standardisasi layanan dan profesi fisioterapi yang terutama didasarkan pada ilmu kedokteran modern. Pada tahun 1920 mulai dibentuk perkumpulan ahli fisioterapi di Inggris yang kemudian diikuti oleh berbagai negara lain. Perkembangan ilmu dan layanan fisioterapi juga dipengaruhi oleh perang dunia I dan II dimana pada saat tersebut dan paska perang terdapat peningkatan kebutuhan perawatan dan rehabilitasi korban perang.

2.2     Pengertian Fisioterapi
Fisioterapi secara etimologi terbagi atas dua unsur, yaitu : Fisio yang berarti alam dan terapi yang berarti pengobatan. Orang yang menjalankan pelayanan Fisioterapi disebut Fisioterapis. Fisioterapis adalah seseorang yang telah lulus pendidikan fisioterapi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut WCPT Fisioterapi adalah suatu ilmu atau kiat untuk melakukan suatu pengobatan dengan memanfatkan khasiat alam seperti cahaya, air, listrik, latihan-latihan dan manual.
Menurut Joic I William Fisioterapi adalah suatu proses yang secara sistemik untuk mengatasi gangguan fungsi muskuloskeletal dan psikosomatos. Jadi pengertian Fisioterapi secara umum adalah suatu upaya umum pelayanan kesehatan profesional yang bertanggung jawab atas kapasitas fisik dan kemampuan fungsional yang dilaksanakan dengan tindakan terarah yang berorientasi pada pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan ilmiah yang dilandasi oleh etika profesi. Kapasitas fisik adalah potensi yang dimiliki oleh individu baik yang tersedia maupun yang potensial dipengaruhi oleh sistem dan subsistemnya yang komponennya dimulai dari sel, jaringan, organ, dan sistem organ yang ada di dalam tubuh Kemampuan fungsional adalah kemampuan individu untuk menggunakan kapasitas fisik yang dimilikinya dalam memenuhi kewajiban hidupnya untuk berinteraksi dengan  lingkungannya.
Menurut Imam Waluyo Fisioterapi adalah upaya pelayanan kesehatan profesional yang bertanggung jawab atas kesehatan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional yang dilaksanakan terarah dan berorientasi pada masalah serta menggunakan pendekatan pendekatan ilmiah dan dilandasi etika profesi.
Menurut Goddenson Fisioterapi memainkan peranan penting dalam rehabilitasi untuk cacat tubuh dan tanggung jawab pada kapsitas fisik dan keterbatasan serta perencanaan program penanganan yang meringankan sakit memperbaiki atau memperkecil keburukan, menambah kekuatan dan gerakan pada umumnya memperbaiki kesehatan , fisioterapis memberi motifasi dan instruksi pada pasien, keluarga dan masyarakat  yang mungkin telah membantu mempengaruhi dalam perilakunya dan program rehabilitasinya.
Menurut Ensikopedia Fisioterapi memuat evaluasi dan cara pengobatan pada kelemahan pasien dan penyakit, kecelakaan dan stress. Menggunakan latihan-latihan dan ukuran-ukuran fisik lainnya untuk mengurangi rasa sakit dan kesadaran mudah bergerak yang tidak teratur. Melakukan evaluasi dengan fisioterapi termasuk termasuk tes dengan menggunakan gerakan sendi tingkat kekuatan otot, kelemahan dan kurannya koordinasi, kapasitas pernapasan, kelancaran pertukaran, sensor dan sistem pernapasan dan kemampuan pasien untuk melakukan kemampuan dasar dari evaluasi tiap hari dalam menyediakan informasi pada akibat-akibat pengobatan, tes-tes dengan menggunakan gerakan tangan atau dengan alat listrik dan cara lain.
Menurut J.Hislop yang diikuti Heidy Paetrero Fisioterapi didefinisikan sebagai sebuah profesi kesehatan yang membedakan ilmu klinik yaitu patokinesiologi adalah suatu pemakaian dari anatomi dan fisiologi untuk gerakan manusia yang tidak normal. Kongres IKAFI oleh  Gerry L. Smidt Fisioterapi meliputi suatu kecakapan khusus dan termasuk mengembangkan prinsif dan menginginkan kesehatan secara profesional.
Fisioterapi menurut WCPT (Word Confederation For Phisical Therapy) 1995 dan 1999 Fisioterapi adalah tenaga kesehatan profesional yang bekerja untuk manusia segala umur yang bertujuan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan, mengembalikan fungsi dan ketergantungan bila individu mendapatkan kekurangan gangguan kemampuan atau masalah yang disebabkan kerusakan fisik, psihis dan lain sebagainya. Ilmu yang dipelajari adalah Fisika, kemanusian dan ilmu kesehatan serta penggunaan sumber fisis untuk menyembuhkan seperti latihan, tehnik manipulasi, dingin, panas serta modalitas eletroterapeutik. Fisioterapi adalah profesi yang mempunyai otonomi sendiri serta mandiri yang melaksanakan praktek secara terbuka dan mempunyai hubungan sejajar dengan profesi medis dan tenaga kesehatan profesional lainnya. Fisioterapi memberikan pelayanan pada sektor privat atau umum di rumah sakit, pusat rehabilitasi, puskesmas, klinik, sekolah dan tempat kerja.
Fisioterapi menurut WCPT 1995 dan 1999 dapat diuraikan dan dijabarkan sebagai berikut :
1.      Fisioterapi profesi yang mandiri
2.      Sejajar dengan profesi kesehatan lainnya
Lingkup pelayanannya dari individu sampai masyarakat menyangkut promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pelayanan Fisioterapi ditujukan kepada perorangan dan masyarakat dimana lingkup pelayanan fisioterapi adalah mengembangkan, memelihara, dan memulihkan serta yang menjadi bidang garapan Fisioterapi adalah maksimalisasi gerak dan kemampuan fungsional sedangkan sehat yang dimaksud fisioterapi adalah keadaan gerak penuh dan fungsional.
Fisioterapi terkait pada urusan mengenali dan memaksimalkan masalah potensi gerak yang berhubungan dengan lingkup promosi, preventif, penyembuhan dan pemulihan, Fisioterapi ikut dalam interaksi antara fisioterapis, pasien atau klien, pamili dan pemberi pelayanan kesehatan dalam proses pemeriksaan potensi gerak dalam upaya menegakkan tujuan yang disepakati dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan fisioterapi yang unik.
Fisioterapis secara khusus memandang tubuh dan kebutuhan potensi gerak merupakan pusat penentuan diagnosis dan strategi intervensi dan konsisten dalam bentuk apapun dimana praktek fisioterapi dilakukan. Bentuk pelayanan fisioterapi akan sangat bervariasi dalam hubungannya dengan dimana fisioterapis bekerja maupun berkenaan dengan promosi, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Fisioterapi adalah bentuk pelayanan yang dilakukan oleh (provide By) atau dibawah pengarahan (Under the direction), dan supervisi oleh fisioterapis termasuk pemeriksaan, diagnosa, perencanaan, intervensi dan evaluasi.
Fisioterapi menurut Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) 1363 pasal 12 dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Fisioterapis dalam melaksanakan praktek berwewenang untuk melakukan :
a.        Asesment Fisioterapi
Assesment termasuk pemeriksaan pada perorangan atau kelompok, nyata atau yang berpotensi untuk terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan atau kondisi kesehatan lainnya dengan cara pengambilan perjalanan penyakit (history Taking), skrening, tes khusus pengukuran dan evaluasi dari hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesa dalam sebuah proses pertimbangan klinis.
b.        Diagnosa Fisioterapi
Diagnosa ditegakkan dari pemeriksaan dan evaluasi dan menyatakan hasil dari proses pertimbangan/ pemikiran klinis, dapat berupa pernyatan keadaan disfungsi gerak, dapat meliputi/mencakup kategori kelemahan, limitasi fungsi, kemampuan/ketidakmampuan dan sindrom.
c.        Intervensi fisioterapi
Perencanaan dimulai dengan pertimbangan  kebutuhan intervensi dan biasanya menuntun kepada pengembangan rencana intervensi, termasuk hasil sesuai dengan tujuan yang terukur yang disetujui pasien/klien, famili atau pelayan kesehatan lainnya. Dapat menjadi pemikiran perencanaan alternatif untuk dirujuk kepada pihak lain bila dipandang kasusnya tidak tepat untuk fisioterapi. Intervensi di implementasikan dan dimodifikasilkan untuk mencapai tujuan yang disepakati dan dapat termasuk penanganan secara manual, peningkatan gerakan, peralatan fisis, peralatan elektroterapeutik dan peralatan mekanis : pelatihan fungsional, penentuan bantuan dan peralatan bantu, instruksi dan konseling, dokumentasi dan koordinasi, komunikasi dan intervensi dapat juga ditujukan pada pencegahan ketidaknormalan (kelemahan), keterbatasan fungsi, ketidakmampuan dan cidera, termasuk juga peningkatan dan pemeliharaan kesehatan, kualitas hidup, kebugaran segala umur dan segala lapisan masyarakat.
2.      Evaluasi/re-evaluasi/re-assesment
Dilakukan setiap penerapan proses fisioterapi agar dapat memaksimalkan tujuan yang akan dicapai.
3.      Fisioterapi adalah  bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi.
Dalam arti luas fisioterapi merupakan bagian dari ilmu kedokteran yang berupa intervensi fisik non-farmakologis dengan tujuan utama kuratif dan rehabilitatif gangguan kesehatan. Fisioterapi atau Terapi Fisik secara bahasa merupakan teknik pengobatan dengan modalitas fisik (fisika). Beberapa modalitas fisik yang terdapat di pergunakan antara lain : listrik, suara, panas, dingin, magnet, tenaga gerak dan air. Modalitas fisik inilah yang kemudian menjadi dasar aplikasi fisioterapi. Sebagai contoh, suhu dapat dimodifikasi menjadi suhu dingin (coldtherapy) dan suhu panas (thermotherapy) yang digunakan pada keadaan yang sesuai dengan indikasi terapi tersebut.
Aplikasi fisioterapi dewasa ini terus menerus mengalami perkembangan baik dari sisis prosedur pelaksanaan maupun alat-alat pendukung. Aplikasi Fisioterapi juga semakin cenderung mengkombinasikan modalitas-modalitas fisika yang ada. Sebagai contoh, hydrotherapy dilakukan dengan modifikasi suhu dingin (coldtherapy) dan panas (thermotherapy). Alat pendukung electrotherapy juga sangat berkembang menjadi alat pendukung yang canggih yang dipergunakan pada level pusat pelayanan kesehatan maupun penemuan alat alat yang dapat dipergunakan secara mandiri oleh penderita, misalnya penggunaan alat TENS (transcutaneous electro nerve stimulation). Pada cabang fisioterapi non-alat, manual therapy dan exercise therapy merupakan cabang fisioterapi yang paling berkembang di dunia olahraga. Manual therapy berkembang untuk melayani kebutuhan pengatasan cedera olahraga maupun cedera non-olahraga pada komunitas atlet dan non-atlet sedangkan exercise therapy berkembang mengikuti kemajuan teknik kedokteran preventif-rehabilitatif.

2.2     Ruang Lingkup Fisioterapi
Berdasarkan ruang lingkup pelayanan fisioterapi dan tuntutan kebutuhan masyarakat serta globalisasi maka pelayanan fisioterapi dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat baik yang bersifat umum ataupun kekhususan seperti berikut ini:
a.    Fisioterapi Kesehatan Wanita
b.   Fisioterapi Tumbuh Kembang
c.    Fisioterapi Kesehatan dan Keselamatan Kerja
d.   Fisioterapi Usia Lanjut
e.    Fisioterapi Olahraga
f.    Fisioterapi Kesehatan Masyarakat
g.   Fisioterapi Pelayanan Medik
Pengembangan pelayanan fisioterapi pelayanan medik didasari pada spesifikasi problem kesehatan pasien, seperti Fisioterapi Muskuloskeletal (penyembuhan dan pemulihan gangguan anggota gerak tubuh terdiri dari otot, sendi, jaringan ikat), Fisioterapi Kardiovaskulopulmonal (penyembuhan dan pemulihan pada gangguan jantung, pembuluh darah dan paru), Fisioterapi Neuromuskular (penyembuhan dan pemulihan pada gangguan sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi), Fisioterapi Integumen (penyembuhan dan pemulihan pada kecacatan fisik dan kulit) dan lain-lain.

Ruang lingkup Pedoman Pelayanan Fisioterapi
Pendekatan penyusunan pedoman ini berdasarkan hasil kajian terhadap penyelenggaraan pelayanan dan pengembangan tenaga fisioterapi saat ini dan kajian terhadap kebijakan pelayanan kesehatan serta kecenderungan pengembangan pelayanan kesehatan yang akan datang baik secara nasional maupun internasional. Memperhatikan hal tersebut maka ruang lingkup pedoman pelayanan fisioterapi di sarana kesehatan meliputi :
1.      Pendahuluan 
2.         Falsafah, etika profesi, kompetensi, peran dan fungsi serta tanggung jawab fisioterapi
3.      Penatalaksanaan palayanan fisioterapi
4.      Pelaporan
5.      Penutup



Referensi :
Salim Salim, 2006. Hambatan dan Kebutuhan Anak Tunadaksa. Dirjendikti.
firmanphysio.blogspot.co.id (diakses pada 15 Februati 2016 pukul 19.06)
https://id.wikipedia.org/wiki/Fisioterapi (diakses pada 16 Februari 2016 pukul 14.25)
 

Kamis, 03 Desember 2015

Hari Disabilitas Internasional 3 Desember



           Hari Disabilitas, mungkin tak begitu akrab di telinga kita. Hanya hari biasa. Tetapi bagi mereka hari ini adalah hari yang penuh dengan kesukacitaan. Sebuah peringatan dimana, hak-hak mereka harus diperjuangkan. Anak Berkebutuhan Khusus pun juga memiliki hak sebagaimana anak normal lainnya. Jika bukan kita yang memperjuangkannya, lalu siapa lagi?

Pasal 60 (ayat 1) Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang hak Asasi Manusia
"Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya"

Hari ini diwarnai dengan berbagai macam kegiatan, dimulai dengan menerbangkan balon bersama di Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya yang dipimpin secara langsung oleh Prof. Dr. Warsono, M.S. (Rektor Universitas Negeri Surabaya)



Selain itu, peringatan hari Disabilitas Internasional juga dilakukan di sebuah sekolah SLB dengan serangkaian acara bakti sosial oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa. Di sekolah SLB Al-Azhar Tropodo Waru, Sidoarjo inilah anak-anak menunjukkan bakat mereka.

 
Kita adalah keluarga disabilitas. Tak perlu malu, tak perlu rendah diri, karena masa depan mereka patut kita perjuangkan. 

Setidaknya hari ini, disebagian kecil bumi ini ada kebahagiaan yang akan terus mengembang.


Key :
Peringatan Hari Disabilitas Internasional 3 Desember
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa
PSLPD Unesa

Sabtu, 28 November 2015

YPAC Story



"Pelangi tidak akan nampak indah jika hanya mempunyai satu warna". 
Pelangi terlihat indah karena dibentuk oleh spektrum warna-warna jelita. Dia, Maha Kuasa, Sang Pencipta Keindahan yang membubuhkan garis-garis warna, hingga makhluk ciptaan Nya dapat menikmati suguhan yang tak terkira. 

Manusia sengaja diciptakan untuk menjadi yang paling sempurna diantara makhluk-makhluknya. Maka patut bagi kita untuk mensyukuri anugrah dari Nya. 



dia, aku hanya bisa tertegun saat pertama kali melihatnya. jari-jari mungil itu begitu lincah menjalankan sebuah kursi roda yang sehari-hari menopangnya. Manapaki lorong kelas dengan penuh percaya diri. Senyumnya pada teman dan orang di sekitar membuat suasana sekolah semakin ceria. 


Tak ada yang kurang dari mereka. Mereka sama seperti manusia normal lainnya, mereka hanya lebih istimewa. Bakat dan potensi mereka miliki. Juara dan sebagainya, mereka juga meraihnya. Lantas mengapa masih ada yang menganggap mereka berbeda?


Lihat. dia sangat gigih bukan? dorongan dan motivasi membuatnya untuk terus maju dan tak kenal lelah. 





Mereka juga manusia seperti layaknyalah kita
Bantulah mereka berkarya menuju masa depan yang bahagia


@YPAC Surabaya 2014
Observasi Jurusan D PLB FIP UNESA


(Femil, Nana, Sella, Rajab, Elmi)

Gerak Tidak Normal

1.1     Pengertian Gerak Tidak Normal
Gerak tidak normal adalah gerakan tubuh secara keseluruhan yang menyimpang baik dilihat dari keadaan otot, disebut tonus otot, dan sifat pola gerakan sendi atau gerak kinematik serta derajatnya, baik secara lokal atau secara keseluruhan. Anak tunadaksa adalah anak yang mengalami cacat fisik disertai dengan adanya gerak tidak normal.

1.2     Faktor Penyebab dan Tanda Kelainan Gerak yang Timbul
1.         Tanda Kelainan Berdasarkan Faktor Lokasi Kelainan Otak
a.        Gerak tidak normal akibat faktor kelainan traktus piramidalis
Traktus piramidalis berfungsi untuk mengendalikan tonus otot agar tetap normal. Secara sederhana traktus ini berfungsi menghambat tonus yang berlebihan. Dengan demikian bila traktus piramidalis tidak berfungsi mengendalikan otot tersebut maka tonus otot akan berlebihan. Tonus otot yang berlebihan disebut otot yang mengalami spastik. Makin lemah fungsi traktus piramidalis maka nilai spastisitasnya makin tinggi.
b.        Gerak tidak normal akibat faktor kelainan traktus ekstra piramidalis
Traktus ekstra piramidalis berfungsi utama mengendalikan pola gerak yang timbul. Maka dari itu tanda utama adanya kelainan traktus ekstra piramidalis dapat dilihat dari kelainan pola gerak yang timbul walaupun tonus otot dan fungsi sendi dalam keadaan normal. Secara umum kelainan pola gerak di antaranya terdiri dari jenis atetosis, chorea, tremor, distonia, rigiditas.
c.         Gerak tidak normal akibat faktor kelainan otak kecil atau cerebellum
Otak kecil fungsi utamanya adalah mengatur keseimbangan tubuh. Tanda utama yang mudah dikenal dari gangguan otak kecil ini adalah hambatan keseimbangan, walaupun tonus otot dan keadaan sendi normal. Keadaan ini mudah dibuktikan dengan menggerakkan sendi sedemikian rupa, sehingga posisi sendi yang stabil berubah. Hal ini dapat terjadi karena otot yang menahan keseimbangan melawan perubahan posisi tidak cepat bereaksi.

2.         Tanda Kelainan Berdasarkan Faktor Kelainan pada Otot (disebut Tonus Otot)
a.        Gerak tidak normal berdasarkan tonus otot
1)        Gerak tidak normal akibat hipotonus
Bila tonus otot melemah atau otot dalam keadaan hipotonus maka akibatnya kekuatan dan ketegangan otot menurun selama otot berkontraksi. Bahkan pada otot tidak dirasakan – melalui perabaan – adanya kontraksi atau dirasakan otot bergerak memendek/memanjang. Selain itu, gerakan sendi secara aktif oleh tubuh tidak terasa pada perabaan sehingga seolah-olah tubuh atau bagian tubuh tidak dapat bergerak sendiri.
Keadaan otot demikian menyebabkan tubuh seperti boneka kain dan pada bayi sering disebut floppy infant (bayi seperti boneka kain). Dengan demikian kelainan gerak akibat otot yang mengalami kelainan hipotonus adalah gerak yang lambat, posisi tubuh yang tidak normal dan tonus otot yang menurun. Lebih lanjut, pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan tubuh akan terhambat.
2)        Gerak tidak normal akibat hipertonus
Gerakan yang ditimbulkan akibat hipertonus bermacam-macam. Di antaranya yang paling mudah dikenal adalah hipertonus otot yang sangat kuat, terutama bila sendi digerakkan secara cepat dan pada waktu sendi diluruskan secara cepat disebut spastik otot. Akibat lebih lanjut dari otot spastik timbul gerak sendi tidak normal. Cirinya gerakan sendi melipat secara cepat dan pada waktu sendi diluruskan secara cepat dari posisi melipat akan tertahan. Sedangkan bila diluruskan dengan perlahan-lahan masih ada tahanan dari otot hipertonus tersebut.
Akibat hipertonus akan menyebabkan kelainan fungsi gerak akibat gerak cepat pada taraf awal dan diikuti dengan posisi perubahan gerak tidak normal. Keadaan ini tidak menguntungkan dilihat dari segi fungsi pertumbuhan maupun perkembangan kemampuan tubuh. Oleh karena itu, adanya kelainan otot hipertonusperlu diperhatikan dalam mengatasi masalah optopedi anak tunadaksa.
b.        Gerak tidak normal akibat kelainan sifat pola gerak atau kinematik
1)        Gerak tidak normal akibat hipokinematik
Hipokinematik dapat timbul akibat kekuatan otot yang kurang atau lemah, sehingga tonus otot kurang. Akibatnya adalah gerakan yang timbul menjadi lambat. Selain itu gerakan hipokinematik dapat timbul akibat tonus otot yang berlebihan sedemikian rupa sehingga gerakan sendi menjadi lambat akibat pertahanan otot yang berlebihan.
Sebagai contoh, anak yang mengalami hipotonus akan mengalami gerakan yang lambat atau hipokinetik. Sedangkan pada anak dengan otot yang spastik dimana tonus otot kuat gerakan akan lambat akibat tahanan otot spastik tersebut. Keadaan ini terutama terjadi bila gerakan dilakukan dengan cepat dan sendi diregangkan.
2)        Gerak tidak normal akibat hiperkinematik
Gerakan ini dapat timbul dengan keadaan otot hipotonus maupun otot hipertonus. Gerakan hiperkinematik dapat diketahui dengan melihat pola gerak yang bervariasi ke segala arah. Variasi gerak akan menonjol baik pada jumlah maupun pada jenisnya. Gerakan dengan banyak variasi maupun jumlahnya, baik yang terdapat pada gerak tidak normal disebut gerak diskinesia. Pada gerak diskenesia akan ditemukan gerakan spontan yang tidak normal dengan tipe bervariasi.
Kenyataan tiap jenis gerak tidak timbul berdiri sendiri, tetapi timbul dengan kombinasi gerak. Dalam prakteknya ada jenis gerak yang umumnya telah dikenal, diantaranya:
a)        Gerak chorea, yaitu gerak cepat, mendadak, tidak disadari, dan tidak terkontrol.
b)    Gerak athetosis, yaitu gerakan yang tidak disadari, tidak terkontrol dan tidak terduga-duga, sehingga tidak jelas tujuannya. Gerakannya lambat.
c)         Gerak distonia, yaitu gerak lambat dari tubuh akibat tonus otot yang berlebihan (hipertonus). Gerakan yang timbul tidak disadari dan bersifat lambat.
d)     Gerak tremor, yaitu gerak berirama dengan amplitudo kecil secara bergantian antara satu sisi otot misalnya fleksor dengan lawannya ekstensor. Gerakan tidak disadari dan tidak terkontrol.
e)    Gerak ataxia, yaitu gerakan gangguan keseimbangan, sehingga tubuh tampak tidak stabil pada satu posisi yang diambil.
Dengan demikian kelainan gerak akibat hiperkinematik umumnya akan menimbulkan gerak tidak disadari, tidak terkontrol, tidak terduga, dan tujuannya tidak jelas, sehingga fungsinya kurang sempurna.
3.         Berdasarkan Kelumpuhan Otot pada Anggota Gerak Atas (Tangan) dan Angoota Gerak Bawah (Kaki)
a.        Kelumpuhan paraplegia
Kelumpuhan paraplegia adalah kelumpuhan yang mengenai kedua anggota gerak bawah atau kaki. Kebanyakan jenis kelumpuhan otot yang ada adalah otot spastik.
b.        Kelumpuhan diplegia
Kelumpuhan diplegia adalah kelumpuhan yang mengenai keempat anggota gerak. Pertama yang terkena adalah kaki dan biasanya terberat. Sedangkan kedua anggota atas atau lengan lebih ringan.
c.         Kelumpuhan tetraplegia atau quadriplegia
Kelumpuhan tetraplegia adalah kelumpuhan yang mengenai empat anggota gerak. Bila lebih banyak terkena anggota gerak bawah atau kaki, maka kondisi ototnya adalah spastik. Sebaliknya bila kondisi otot yang terkena lebih banyak anggota gerak atas atau tangan, maka tipe gerak yang tidak normal adalah diskinesia.
d.        Kelumpuhan hemiplegia
Keadaan kelumpuhan hemiplegia adalah kelumpuhan yang mengenai setengah badan. Apabila yang terkena paling berat anggota gerak atas, maka biasanya kondisi otot tersebut adalah spastik.
Apabila hemiplegia ini terjadi secara dini atau merupakan cacat lahir, maka akan terlihat pertumbuhan tulang terhambat sehingga tangan pendek dan otot kecil atau atropi. Sedangkan pertumbuhan kaki tidak begitu tertinggal dibandingkan dengan pertumbuhan tangan sisi yang sama. Adanya tanda perbedaan panjang tangan merupakan tanda utama adanya kelumpuhan pada masa bayi (infantil).
e.         Kelumpuhan tiga anggota gerak atau triplegia
Kelumpuhan tiga anggota gerak atau triplegia adalah kelumpuhan yang terdiri dari dua kaki atau anggota gerak bawah dan satu tangan. Sebenarnya keadaan ini merupakan gabungan dari kondisi paraplegia dan hemiplegia atau merupakan keadaan kelumpuhan tetraplegia yang tidak komplit.
f.         Kelumpuhan satu anggota gerak atau monoplegia
Kelumpuhan satu anggota gerak atau monoplegia biasanya jarang dan sering hanya mengenai satu kaki satu kaki dan ototnya spastik. Biasanya keadaan monoplegia seperti kelumpuhan hemiplegia atau paraplegia ringan.
g.        Kelumpuhan seluruh anggota gerak disebut double hemiplegia
Kelumpuhan double hemiplegia adalah kelumpuhan dua kali hemiplegia atau dua kali lumpuh sebelah badan. Tanda utama dari sifat lumpuh ini adalah tangan lebih berat terkena lumpuh dan kondisi ototnya adalah spastik. Hal yang sebaliknya terjadi pada lumpuh quadriplegia dimana kaki lebih banyak terkena dan otot tangan normal dengan gerak yang timbul adalah atetoid.
4.         Berdasarkan Derajat Kelainan Gerak yang Timbul
a.        Derajat ringan atau mild
Tanda-tanda gangguan fungsi anak tunadaksa derajat ringan:
1)        Mampu ambulasi jalan tanpa bantuan.
2)        Mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti makan, minum, dan berpakaian tanpa bantuan atau hanya dengan diawasi.
3)        Mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa lisan.
b.        Derajat moderate
Tanda-tanda anak tunadaksa dengan gangguan fungsi moderate adalah:
1)   Adanya hambatan dalam mobilisasi dan memelihara diri sendiri sehingga perlu bantuan minimal.
2)        Mulai ada hambatan komunikasi

c.         Derajat berat (severe)
1)     Adanya hambatan mobilisasi sedemikian rupa sehingga anak hanya tinggal di tempat tidur atau memakai kursi roda.
2)   Perlunya bantuan penuh dalam pelaksanaan kegiatan memelihata diri sendiri terutama makan, minum, mandi, dan berpakaian.
3)        Adanya hambatan komunikasi, anak susah untuk menyampaikan kehendaknya atau anak tidak mampu menerima perintah.
5.         Kelainan Alat Gerak
Kelainan alat gerak adalah kelainan komponen alat gerak yang terdiri dari otot, tulang, sendi, saraf, serta pembuluh dan kelainan pola gerak akibat kelainan dari komponen tersebut.
a.        Kelainan alat gerak bersifat lokal
1)        Komponen gerak otot
Pada anak tunadaksa otot akan mengalami perubahan. Perubahan otot dapat diakibatkan istirahat yang lama, kurang bergerak, dan terlalu banyak digerakkan selama latihan. Akibat yang dapat terjadi otot dapat mengalami atropi atau dapat mengalami distropi.
2)        Komponen gerak tulang dan sendi
Tulang dan sendi akan mengalami kelainan bila sendi tidak digerakkan atau digerakkan secara berlebihan sehingga menyebabkan trauma rudapaksa pada sendi. Adapun kelainan sendi dan tulang yang sering timbul yaitu:
a)   Tulang menjadi kaku sehingga susah digerakkan dan bila digerakkan terasa sakit.
b) Sendi membengkak karena infeksi, trauma ruda paksa, atau inflamasi / peradangan, dan reumatik.
c)       Osteoporosis
d)       Kelainan dalam sendi, seperti patah tulang, robekan tulang rawan, atau kelainan robeknya urat di sekitar sendi. 
b.        Kelainan alat gerak bersifat sistimitis (menyeluruh)
Kelainan alat gerak bersifat sistimitis adalah kelainan alat gerak secara menyeluruh dan berhubungan dengan fungsi tubuh secara keseluruhan. Sebagai penyebab di antaranya adalah penyakit atau kelainan bawaan.
c.         Kelainan alat gerak akibat cerebral palsy
Gangguan alat gerak akibat cerebral palsy antara lain:
1)    Adanya otot yang lemah atau flaksid dan menghambat gerakan aktif dan fungsi tubuh secara keseluruhan.
2)    Adanya otot spastik secara lokal akan menyebabkan sendi susah digerakkan dan sendi akan menjadi kaku dan kontraktur serta deformitas.
3)   Adanya spastik otot secara keseluruhan akan menghambat fungsi tubuh untuk mobilisasi, berguling, merangkak, duduk stabil, berdiri stabil, dan kontrol postur serta berjalan.
4)    Adanya otot flaksid dan spastik akan menghambat fungsi tangan untuk kegiatan sehari-hari seperti makan, minum, madi, dan bepakaian, bahkan untuk belajar.
d.        Kelainan alat gerak akibat penyakit polio
Akan terjadi kelainan akibat polio antara lain sebagai berikut.
1)        Pada kaki, timbul kelainan otot kecil sehingga pola jalan terganggu, akibat kaki dan tangan menjadi pendek.
2)        Kelainan sendi lutut yang melipat, pergelangan kaki yang jinjit atau melipat ke luar dan ke dalam.
3)        Kelainan pada tulang belakang sedemikian rupa sehingga badan menjadi bungkuk dan bahu menjadi tinggi sebelah (skoliosis).
e.         Kelainan alat gerak akibat penyakit otot muscular distropi
1)        Adanya otot distropi sehingga kekuatan otot menurun dan gerakan sendi atau tubuh akan menjadi lambat.
2)        Gangguan gerak sendi akibat sendi menjadi kaku atau kontraktur.
3)        Gangguan mobilisasi mulai berguling, merangkak, duduk, berdiri, dan jalan.
4)        Bila terjadi kelainan pada tangan maka fungsi akan menurun.
f.         Kelainan alat gerak akibat cacat bawaan atau diperoleh
Cacat bawaan atau diperoleh akan menyebabkan tidak sempurnanya alat gerak, baik anggota gerak atas maupun bawah. Kelainan anggota gerak bawaan sudah ada sejak lahir. Sedangkan kelainan gerak diperoleh merupakan akibat tindakan operasi amputasi.







Daftar Pustaka
Muslim, Toha. 1995. Ortopedi dalam Pendidikan Anak Tunadaksa. Jakarta: Depdikbud.